Bundle KPPOD Brief

Showing 1-20 of 29 items.
#CoverEdisiDeskripsiPDF
  
1(Edisi April-Juni 2015)


Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah berperan sentral sebagai instrumen fiskal pemda dalam membangun perekonomian. Setidaknya, lewat alokasi belanja (government spending), fiskal bisa menjadi stimulan bergeraknya investasi swasta, juga sumber pembiayaan bagi layanan publik. Melihat postur APBD di sebagian daerah, baik yang bersumber dari transfer Pusat (khususnya Dana Perimbangan) maupun tambahan dari daerah (khususnya PAD), tak berlebihan mengatakan bahwa daerah saat ini memiliki sumber daya yang cukup untuk menjadi motor penggerak ekonomi.

2(Edisi Oktober-Desember 2015)


Kinerja perekonomian di suatu daerah pada masa otonomi ditentukan, antara lain, oleh daya dukung instrumen kebijakan dan tata kelola pemerintahan yang mempengaruhi pasar dan kegiatan usaha masyarakat. Pemda memiliki kewenangan luas dalam mempengaruhi kemajuan ekonomi. Intervensi pemerintah tersebut bisa memberikan dampak suportif dan distortif yang semua itu tercermin dalam kondisi perekonomian daerah.

3(Edisi November-Desember 2012)

Bukan lautan, hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu, tiada badai tiada topan kau temui, ikan dan udang menghampiri diri mu…. Sepenggal syair lagu milik group musik legendaries - Koes Plus - tersebut menggambarkan betapa besarnya kekayaan laut negeri ini. Tiga perempat, atau kurang lebih 5,8 juta km wilayah Indonesia terdiri dari lautan, dan merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Namun demikian apakah syair lagu tersebut juga mampu menggambarkan kondisi nelayan di tanah air?

4(Edisi Maret-April 2013)

Beberapa tahun belakangan ini, kinerja perekonomian Indonesia banyak mendapatkan pujian. Dengan pertumbuhan 6,3%, tertinggi kedua setelah Cina, tahun 2012 produk domestik bruto Indonesia mencapai Rp 8.241,86 triliun. Pemerintah juga boleh berbangga karena demi membantu perekonomian global, Indonesia mampu membeli obligasi IMF senilai 1 miliar dollar AS (Rp 9,4 triliun). Demi memacu pertumbuhan ekonomi dan menarik investor asing, pemerintah senang mempromosikan upah murah pekerja sebagai keunggulan komparatif di pasar global. Menarik investor memang keharusan, mengingat penduduk miskin di Indonesia mencapai 28.594.600, atau 11,6% dari penduduk, dan tingkat pengangguran mencapai 6,14% atau 7.244.956 orang (BPS: 2012). Namun apakah upah buruh murah masih patut untuk dijadikan bahan promosi untuk menarik investor?

5(Edisi Januari-Maret 2017)

Birokrasi merupakan “personifikasi” negara di tengah masyarakat. Kinerja birokrasi sangat mempengaruhi persepsi masyarakat tentang negara. Masyarakat melihat dan merasa “negara hadir” jika birokrasi memberikan pelayanan optimal. Negara hadir inilah yang menjadi tema sentral Nawacita Jokowi-JK. Seluruh program dan kebijakan pemerintah saat ini berkiblat pada cita-cita tersebut. Salah satunya adalah reformasi birokrasi (debirokratisasi)—yang selalu disandingkan dengan reformasi regulasi (deregulasi).

6(Edisi Mei-Juni 2009)

Dalam era desentralisasi dan otonomi daerah saat ini, setiap Pemda diberikan kewenangan dan peran aktif membangun daerahnya. Harapannya, mendorong terciptanya pembangunan yang lebih merata di seluruh penjuru Indonesia sebagai salah satu jawaban atas ketimpangan pembangunan ekonomi antarwilayah di Indonesia selama puluhan tahun sebelum-nya. Sejauh mana peran Pemda dalam mendorong pembangunan di daerahnya masing-masing menjadi hal yang menarik untuk diketahui pada era otonomi daerah ini.

7(Edisi Juli-September 2012) (Catatan awal RAPBN 2013)

Dalam profil RAPBN 2013: sisi pendapatan negara ditargetkan Rp 1.507,7 triliun (naik 11% dibandingkan penerimaan APBN-P 2012) sedangkan sisi besaran belanja Negara ditetapkan Rp 1.657,9 triliun (naik 7,1% dibandingkan APBN-P 2012). Namun kenaikan tersebut masih belum diikuti dengan ruang gerak fiskal yang optimal (Pidato kenegaraan Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 16 Agustus).

8(Edisi Mei-Juni 2013)

Disintegrasi Ekonomi. Pada masa awal pelaksanaan otonomi daerah banyak orang pesimis kalau otonomi daerah akan berhasil. Sebagian pihak bahkan sampai berfikir extrim, jika otonomi daerah ini justru akan mengakibatkan disintegrasi bangsa. Memang dalam masa awal pelaksanaan otonomi daerah, ada beberapa praktik negatif yang memperlihatkan gejala ke arah disintegrasi dalam arti ekonomi.

9(Edisi September-Oktober 2012)

Edisi kali ini mengetengahkan diskusi perihal satu soal besar dalam tata kelola ekonomi daerah di era desentralisasi ini: kualitas infrastruktur. Studi apapun mengenai iklim usaha dan segala hal yang terkait daya dukung kegiatan ekonomi di negeri ini selalu muncul dengan satu kesimpulan besar, yakni betapa besarnya kontribusi infrastruktur bagi kelancaran aktivitas usaha, tetapi sekaligus pada sisi lain betapa tingginya bobot permasalahan bidang tersebut. Disini, kita menyaksikan suatu kontradiksi: ekspektasi yang tinggi hanya menemukan realisasi yang rendah, bahkan problematik.

10(Edisi Januari-Maret 2010)

Hasil sementara penelitian yang disajikan dalam tulisan (artikel) ini, telah disosialisasikan dan didiskusikan dalam sebuah forum diskusi yang diselenggarakan oleh KPPOD. Forum diskusi yang diikuti oleh sejumlah akademisi, perwakilan NGO dan sejumlah pelaku usaha ini diselenggarakan pada tanggal 6 Agustus 2009. Melalui diskusi ini, muncul sejumlah catatan dan masukan yang menarik terhadap hasil sementara penelitian.

11(Edisi April-Juni 2012)

Ikhtiar perbaikan layanan publik di bidang ekonomi berintikan agenda reformasi perijinan. Kondisi tata kelola perijinan--khususnya era desentralisasi--menjadi titik sumbatan dalam lingkungan usaha di daerah. Kondisi itu memang tidak mewakili gambaran menyeluruh iklim investasi, apalagi menjadi tolok ukur daya saing suatu Kabupaten/Kota, namun kinerja perijinan jelas menjadi sinyal awal lika liku perjalanan kegiatan usaha ke depan.

12(Edisi April-Juni 2010)

Keberadaan Gubernur dan Propinsi sebagai lingkungan kerja Gubernur sepanjang sewindu desentralisasi dan otonomi daerah dinilai kurang signifikan, baik jika dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya (khususnya Orba) maupun jika ditempatkan dalam proporsi yang semestinya. Sedemikian lemahnya kedudukan, peran dan fungsi Gubernur tersebut, sebagian pakar/pengamat menyebut keberadaannya antara ada dan tiada.

13(Edisi April-Juni 2011)

Konsep sistem inovasi daerah bukan merupakan barang baru dalam wacana publik pembangunan ekonomi daerah di Indonesia, terutama setelah sistem otonomi daerah diberlakukan sejak 2001. Rencana pembangunan wilayah industri yang terintegrasi adalah salah satu contohnya. Namun, sepuluh tahun telah berlalu tanpa adanya satu perwujudan nyata dari berbagai wacana publik tersebut.

14(Edisi Juli-September 2014)

KPPOD Brief kali ini mengetengahkan masalah-masalah klasik di level makro kebijakan hingga mikro implementasi yang terlebih dahulu harus dibenahi dan ditata. Kita masih bermasalah pada prakondisi desentralisasi yang tak kunjung beres. Kita tetap saja berkutat pada kapasitas rendah dalam sejumlah elemen desentralisasi. Prakondisi dan elemen yang kurang terkelola baik tersebut menyumbang pada lemahmya kapasitas delivery otonomi bagi perbaikan layanan publik, pembangunan ekonomi, hingga daya saing daerah sehingga tujuan akhir perbaikan kualitas hidup dan peningkatan kesejahteraan rakyat masih jauh panggang dari api.

15 (Edisi Januari-April 2008)

Newsletter edisi ini mempunyai mandat utama mensosialisasikan fokus bidang garapan KPPOD yakni: kompetisi antar daerah, peraturan daerah, dan kerjasama antar daerah. Tulisan tentang tata kelola ekonomi daerah dalam edisi ini mengajak diskusi tentang kerangka pembangunan ekonomi daerah dengan mencermati peran para aktor utamanya. Sedangkan tulisan kerjasama antar daerah, selain merupakan salah satu isu penting pembangunan ekonomi daerah, juga dimaksudkan untuk menawarkan alternatif solusi atas kompleksitas efek pemekaran daerah yang sangat cepat berlangsung. Edisi ini juga mengangkat tulisan soal perda dengan mengulas aspek penting terkait keberadaaannya.

16(Edisi Oktober-Desember 2013)

Pembangunan ekonomi daerah menghadapi berbagai tantangan, baik internal maupun eksternal, seperti masalah kesenjangan dan iklim globalisasi. Yang disebut belakangan ini menuntut tiap daerah untuk mampu bersaing di dalam dan luar negeri. Kesenjangan dan globalisasi berimplikasi kepada propinsi dan kabupaten/kota, untuk melaksanakan percepatan pembangunan ekonomi daerah secara terfokus melalui pengembangan kawasan dan produk andalannya. Dalam hal ini kemampuan pemerintah Pemda dalam merumuskan strategi pembangunan menentukan kemajuan daerah.

17(Edisi Januari-Maret 2011)

Pergantian kerangka regulasi perpajakan daerah (UU No.34/2000 menjadi UU No.28/2009) tidak saja berimplikasi pada perubahan ihwal subtansi pajak daerah dan retribusi daerah (PDRD), tetapi juga perubahan krusial dalam hal mekanisme pengawasan pemerintah pusat atas dasar hukum (Perda) yang mengatur dua jenis pungutan tersebut.

18(Edisi April-Juni 2014)

Persoalan khas dalam hubungan pemerintahan antara pusat dan daerah di Indonesia dari masa ke masa selalu sama, yakni pembagian tugas dan pembagian sumber daya ekonomi yang diwarnai tarik-menarik kepentingan. Sentralisasi dan desentralisasi adalah pasang surut dalam pengelolaan negara sejak Indonesia merdeka hingga kini. Koordinasi pembangunan antar level pemerintahan disebut sebagai obat mengatasi persoalan, namun praktiknya tak mudah dilaksanakan.

19(Edisi Januari-Maret 2015)

Reformasi perizinan usaha tampak terus bergerak saat ini. Selain reformasi pada aspek birokrasi berupa pembentukan PTSP dan pengendalian biaya perizinan dalam rangka implementasi UU No.28/2009, arah perhatian Pemerintah hari-hari ini mulai menyasar kepada reformasi regulasi/kebijakan yang mendasari pengaturan materi perizinan. Fokus baru ini kita kenal sebagai penyederhanaan substansi syarat dan jumlah/jenis perizinan, dengan metode utamanya adalah deregulasi.

20(Edisi Januari-Maret 2012)

Salah satu mandat dasar gerakan reformasi 14 tahun lalu adalah penerapan desentralisasi dan otonomi daerah. Tujuan besarnya tak lain adalah membangun Indonesia dari daerah, melalui segala upaya pemajuan demokrasi dan kesejahteraan. Otonomi memang tetap eksis bahkan diterima sebagai point of no return dalam agenda pembangunan bangsa, tetapi apakah daerah menjadi kian demokratis dan sejahtera tetap menjadi pertanyaan serius nan menggugat. Artikel kritis-reflektif ini berupaya mengetengahkan peta masalah yang ada dan menawarkan pilihan-pilihan tindakan ke depan bagi pembaruan menuju otonomi yang lebih bermakna bagi publik.